Ia berkata, "bahagiamu sesungguhnya ada dibalik celah itu, cobalah meronta sedikit saja agar kepalamu bisa lekas keluar mengintip dibalik retakan itu".
Dengan lantang hatiku menjawab "tidak!, bahagiamu ada bersama dia yang terus menusuk dalam mimpi mimpi malam tidurmu", cobalah bersabar sejenak sembari menambal celah retakan yang makin mengenaskan.
Yaa, cobalah sedikit menambalnya dengan waktumu.
Sejenak sambil menyesapi secangkir kopi dan terus menghisap tembakau yang sengaja aku bakar, aku bertanya kepada diriku "akankah aku mati oleh lara yang racunnya terus menjalar kesekujur tubuhku?" atau mungkin aku akan terus hidup dengan bekas bekas luka lara disekujur tubuhku?.
Entah pakai penangkal racun dari belahan dunia mana lagi aku akan melawan lara ini, ia menjalar tak kenal waktu.
Kadang melemah kadang membatu.
Perkara aku yang terus melawan racun ini dan kau yang terus membantaiku dengan egomu.
Sudah lelah bertahan karena lara yang menggerogoti, kau hantam juga hatiku dengan egomu, sial.
Dibalik jingga yang terus menguning, ku titip salam sayang disana. Kuharap esok kau membacanya. Jikalau pun tidak biar dia menghilang bersama jingga sore itu yang begitu menawan.
Sekian~

Komentar
Posting Komentar