Tak ada awan mendung, atau angin yang mengganggu kesunyian.
Tak ada yang lebih indah dibanding rembulan malam itu. Dengan kesunyian semesta, aku menulis. Bukan perihal apa yang terjadi kala itu. Tapi perihal bagaimana aku mampu melupa pada rembulan yang begitu indah malam ini.
.
.
Rasa rasanya ingin aku hentikan waktu sesaat, saling memeluk erat dan memaafkan. Aku berkata "tak apa, semua akan baik baik saja." lalu kamu terus menangis tersedu sedu sambil menyembunyikan rasa yang ada. Dan menjawab "engga, gua jahat banget". Beberapa kali aku coba menjentikan jemariku berharap waktu malam itu berhenti. Sayang aku bukan thanos yang memiliki invinity stone.
.
.
Perihal kesalahan, yang sulit itu memaafkan. Mungkin terdengar baik baik saja, tapi ada ribuan rasa yang sengaja di hilangkan, agar malam itu aku mampu menikmati rembulan dan hangat pelukan.
.
.
Atas segala mendung dan guntur yang diundang.
Ternyata, malam itu tak seindah sesungguhnya. Kecewa tetaplah kecewa. Memukul segala raga dan jiwa. Setelah itu, segala ragaku mati rasa. Terima kasih atas segala kecewa yang diundang dan menggerogoti jiwa dan raga. Hingga aku tak bisa bertemu pagi seperti biasanya.
Tak ada yang kekal, begitupun rasa. Ia akan segera hilang dan tenang.
Sekian~.

Taaps lanjutkeun
BalasHapus