Antara Cinta dan Nestapa


Jika bahagia bisa dibeli,
Biar aku jatuh miskin untuk membeli bahagia itu.
Jika sedih dapat di lebur,
Biar ku kerahkan api dari neraka bagian cinta untuk melebur dan menghancurkan sedih itu.
Dasar,
Aku tak mau lagi berkelahi dengan waktu untuk meredam kecewa.
Aku juga tak mau berkelahi dengan kenangan untuk menghapus rasa.
Sudahlah,
Iyaa aku tau.
Waktu sanggup mengubah orang termasuk perasaan.
Tapi,
Aku maunya kamu.
Cuma kamu, sayang.
.
.
Sayang,
Jika berkenan.
Biar ku titipkan selembar surat pada indah mentari pagi esok hari.
Tak apa,
Jika kau tak mau membacanya pagi nanti.
Aku sudah memperkuat surat itu dengan doa.
Agar tak rapuh dimakan usia.
Jadi,
Sewaktu-waktu kamu ingin membacanya.
Kamu bisa mengambilnya dari balik jendela pintu kamarmu.
.
.
Sudah beberapa malam,
Tidurku selalu terganggu.
Terganggu, bayang bayang senyum mu yang meruntuhkan pertahanan hatiku.
Padahal,
Aku sudah melapisi hatiku dengan berbagai lapis macam baja dan besi.
Tetap saja,
Senyum mu sangat kuat guncangannya.
Kadang aku berpikir, jika kelak suatu saat kita berjumpa entah di mana.
Apakah,
Tatapan mu masih sama?
Atau kau pura pura tidak mengenaliku?
Kuharap semua itu hanya ketakutan ku saja.
Iyakan?
.
.
Bicara soal melupa,
Yang tersulit adalah menghapus kenangan.
Sebab,
Mereka mengakar dan daunnya begitu lebat.
Sampai-sampai jika aku paksa mencabutnya.
Jiwaku akan ikut terangkat melayang-layang dalam lamunan kelam rasa.
Jika kubiarkan,
Bisa bisa akarnya menyerap habis ragaku.
Hingga aku mati oleh rindu yang menggebu.
.
.
Jika kelak,
Aku mati.
Sayangku,
Jangan tangisi aku, ya.
Aku tak bisa melihat air mata seorang bidadari terjatuh menangisi biadab sepertiku.
Sekian~

Komentar