Badai Malam Semesta


Hari ini, malam kembali datang.
Tidak dengan tenang melainkan dengan luka.
Luka yang dibuat olehku, karena mencoba menjadi manusia baik kepada setiap orang.
Hingga aku lupa,
bintangku yang tersayang kian meredup.
Mulutku kaku.
Tubuhku lemas.
Aku dihajar mati matian karena perbuatanku.
Kini hanya ada penyesalan.
Semua kian menghilang.
.
.
Malam ini langit teramat mendung,
tak ada teman cerita.
Rembulan dan bintang sudah tak terlihat.
Hanya ada rindu dan sayang yang terus mebebal. Keduanya,
Tak tahu kapan harus nenepi.
Ibarat melaut ditengah badai yang ganas,
aku terombang ambing dalam lautan yang nahas. Tak tahu kapan menepi,
tak tahu apakah selamat atau mati ditengah perjuangan.
.
.
Malam ini sangat sulit,
sementara pagi kian mengejar.
Mataku tak kunjung terlelap.
Aku rasa ada yang mencungkil cungkil mataku dengan kecemasan,
atau ada yang memberiku kopi dengan sedikit lara? Sehingga jantung dan pikiranku tak kunjung tenang.
Adahal yang lebih sulit dari memaafkan,
adalah merelakan.
Sebab,
tak semua maaf dapat direlakan.
Tak semua rasa dapat dihapuskan.
.
.
Ternyata malam ini tak sesepi yang kukira.
Suara letikan Tembakau rokok yang ku bakar seolah menemaniku menulis malam ini.
Berbeda dengan yang lainnya,
malam ini asap tembakau memperkosaku.
Masuk melewati mulut dan menjalar keseluruh aliran darahku.
Seolah tak memberi ampun.
Aku dipaksa menghabiskan berbatang batang tembakau.
Bukan karena mulut yang asam.
Lebih dari itu.
Untuk melupa, asap harus terus menjalar ke otak. Sesekali airmata menetes membuatku sadar.
Air mata ialah simbol tulus rasa bukan kelemahan.
Sekian ~

Komentar